Makanan Kucing Lokal Tembus Filipina, Ekspor Perdana Rp3 Miliar Produk makanan kucing buatan Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar luar negeri. PT Evo Manufacturing Indonesia resmi melepas ekspor perdana makanan hewan peliharaan ke Filipina dengan nilai sekitar 176 ribu dolar AS atau setara kurang lebih Rp3 miliar. Pengiriman tersebut dilepas oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso dari fasilitas produksi perusahaan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Kamis, 12 Februari 2026. Produk yang dikirim meliputi makanan basah dalam kaleng, pasta dalam kemasan, serta daging kaldu dalam kemasan untuk kebutuhan pasar hewan peliharaan di Filipina.
Ekspor Perdana dari Banyuasin Jadi Sorotan
Pelepasan ekspor ini menjadi perhatian karena produk yang dikirim bukan komoditas mentah, melainkan barang olahan bernilai tambah. Makanan kucing lokal yang diproduksi di Banyuasin tersebut masuk ke pasar Filipina, salah satu negara Asia Tenggara dengan pertumbuhan komunitas pencinta hewan peliharaan yang terus bergerak.
Nilai Pengiriman Mencapai Rp3 Miliar
Ekspor perdana ini bernilai sekitar 176 ribu dolar AS atau setara Rp3 miliar. Dalam pengiriman tersebut, produk yang dilepas mencakup 2.300 boks makanan basah dalam kaleng, 11.200 boks pasta dalam kemasan, serta 12.000 boks daging kaldu dalam kemasan. Rincian ini menunjukkan bahwa produk yang dikirim sudah masuk kategori olahan siap konsumsi untuk hewan peliharaan, bukan sekadar bahan baku.
Jumlah tersebut memberi gambaran bahwa industri makanan hewan peliharaan di Indonesia mulai masuk tahap lebih serius. Produk lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, tetapi juga mulai mendapat tempat di jaringan perdagangan kawasan. Bagi industri pengolahan, keberhasilan menembus pasar ekspor seperti ini dapat membuka jalur baru untuk produk serupa dari daerah lain.
Mendag Lepas Langsung dari Pabrik
Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas ekspor tersebut dari pabrik PT Evo Manufacturing Indonesia di Kabupaten Banyuasin. Kontan mencatat perusahaan ini merupakan perusahaan nasional yang berkedudukan di Palembang dengan fasilitas produksi makanan hewan di Banyuasin, Sumatera Selatan. Produk yang diekspor disebut menggunakan bahan baku dari sektor perikanan dan peternakan lokal.
Kehadiran Menteri Perdagangan dalam pelepasan ekspor memberi sinyal bahwa pemerintah melihat produk makanan hewan peliharaan sebagai sektor yang layak didorong. Selama ini, pembicaraan ekspor sering terpusat pada batu bara, sawit, hasil laut, tekstil, dan otomotif. Kini, produk yang lebih dekat dengan kebutuhan rumah tangga modern seperti makanan kucing mulai mendapat perhatian nasional.
Produk Lokal Menjawab Pasar Hewan Peliharaan
Kucing menjadi salah satu hewan peliharaan paling populer di banyak negara, termasuk Indonesia dan Filipina. Kebiasaan memelihara kucing tidak lagi sekadar memberi makan sisa makanan rumah. Banyak pemilik kini mencari produk khusus yang lebih bersih, tahan lama, mudah disajikan, dan sesuai dengan kebutuhan hewan.
Makanan Basah Makin Dicari
Produk yang dikirim ke Filipina mencakup makanan basah dalam kaleng dan pouch. Jenis makanan basah banyak dipilih pemilik kucing karena teksturnya lembut, aromanya kuat, dan kandungan airnya lebih tinggi dibanding makanan kering. Bagi sebagian kucing, makanan basah juga lebih mudah diterima karena mirip tekstur makanan alami.
Pilihan kaleng dan pouch memberi keleluasaan bagi konsumen. Kaleng cocok untuk stok rumah, sedangkan pouch lebih mudah dipakai dalam porsi harian. Dengan membawa dua format tersebut, produk lokal Indonesia dapat masuk ke beberapa segmen pembeli sekaligus.
Varian Pate dan Chunk in Gravy
Pasta dalam kemasan atau pouch pรขtรฉ serta daging kaldu dalam kemasan atau pouch chunk in gravy menjadi bagian dari produk yang diekspor. Pรขtรฉ biasanya memiliki tekstur lembut dan halus, cocok untuk kucing yang menyukai makanan mudah dikunyah. Sementara itu, chunk in gravy berisi potongan lebih terasa dengan kuah kaldu yang menambah aroma.
Varian seperti ini menunjukkan bahwa produsen lokal tidak hanya membuat produk dasar, tetapi sudah memahami kebiasaan pemilik kucing modern. Pasar hewan peliharaan menuntut pilihan rasa, tekstur, ukuran kemasan, dan kualitas yang konsisten. Produk yang berhasil masuk pasar ekspor harus memenuhi standar tersebut.
Filipina Jadi Pasar Menjanjikan
Filipina menjadi tujuan ekspor perdana yang menarik karena berada dalam kawasan yang dekat secara geografis dengan Indonesia. Kedekatan ini membantu biaya pengiriman lebih efisien dibanding pasar yang lebih jauh. Selain itu, selera konsumen Asia Tenggara dalam produk hewan peliharaan memiliki beberapa kesamaan.
Permintaan dari Kawasan Terus Terbuka
Data perdagangan menunjukkan produk makanan hewan peliharaan Indonesia sudah masuk sejumlah tujuan, seperti India, Malaysia, Jepang, Filipina, dan Hong Kong. Pada Januari sampai November 2025, nilai ekspor makanan hewan peliharaan Indonesia tercatat mencapai 8,25 juta dolar AS.
Filipina menjadi pasar yang wajar dibidik karena jumlah pemilik hewan peliharaan terus berkembang. Produk yang mampu bersaing dari sisi harga, rasa, kemasan, dan keamanan pangan hewan berpeluang mendapat ruang di rak toko maupun platform penjualan daring.
Dekat secara Logistik
Secara logistik, pengiriman dari Indonesia ke Filipina relatif lebih mudah dibanding tujuan lintas benua. Kedekatan pelabuhan, jalur dagang Asia Tenggara, dan hubungan perdagangan kawasan memberi keuntungan bagi eksportir. Jika permintaan stabil, pengiriman berikutnya dapat dilakukan dengan jadwal lebih teratur.
Kelebihan logistik ini penting untuk produk makanan hewan yang memiliki masa simpan tertentu. Produk kaleng dan pouch memang lebih tahan dibanding makanan segar, tetapi pengelolaan gudang dan pengiriman tetap harus rapi agar barang tiba dalam kondisi baik.
Bahan Baku Lokal Ikut Terangkat
Salah satu bagian penting dari ekspor makanan kucing ini adalah penggunaan bahan baku lokal. Produk yang dikirim disebut berasal dari bahan baku sektor perikanan dan peternakan dalam negeri. Artinya, kegiatan ekspor tidak hanya menguntungkan pabrik, tetapi juga ikut menggerakkan rantai pasok di sekitarnya.
Perikanan Menjadi Penopang Rasa
Makanan kucing sering memakai bahan berbasis ikan karena aromanya kuat dan disukai banyak kucing. Indonesia memiliki pasokan perikanan yang besar, sehingga bahan baku seperti ikan dan turunannya dapat menjadi kekuatan dalam produksi makanan hewan.
Jika industri makanan hewan berkembang, nelayan, pengolah ikan, dan pemasok bahan baku bisa mendapat tambahan pasar. Bahan yang sebelumnya hanya terserap untuk konsumsi manusia atau industri lain dapat memiliki jalur nilai tambah baru, selama tetap memenuhi aturan mutu dan keamanan.
Peternakan Menyediakan Bahan Pendukung
Selain ikan, produk makanan kucing juga dapat memakai bahan dari sektor peternakan. Kaldu, protein hewani, lemak, dan bahan pendukung lain dapat berasal dari rantai peternakan yang diolah secara higienis. Kualitas bahan baku menjadi syarat penting karena produk hewan peliharaan tetap harus aman dikonsumsi.
Pabrik yang ingin masuk pasar luar negeri perlu memastikan bahan baku tercatat, diproses dengan standar baik, dan memenuhi ketentuan negara tujuan. Ini membuat penguatan rantai pasok menjadi pekerjaan penting di balik keberhasilan ekspor.
Industri Pet Food Nasional Tumbuh Cepat
Makanan hewan peliharaan bukan lagi pasar kecil. Di banyak negara, belanja untuk hewan peliharaan terus naik karena pemilik semakin memandang hewan sebagai bagian dari keluarga. Indonesia ikut masuk dalam arus tersebut, baik sebagai pasar maupun produsen.
Ekspor Naik Lebih dari Seratus Lima Puluh Persen
Pada periode 2020 sampai 2024, ekspor produk makanan hewan peliharaan Indonesia tumbuh 158,27 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan yang sangat besar dalam waktu empat tahun.
Kenaikan tersebut memberi sinyal bahwa pelaku industri mulai menemukan peluang di luar negeri. Jika sebelumnya pasar makanan hewan banyak diisi merek impor, kini produsen lokal mulai membalik posisi dengan mengirim produk sendiri ke negara lain.
Pasar Global Bernilai Besar
Kontan mencatat nilai pasar ekspor produk makanan hewan dunia mencapai sekitar 26,3 miliar dolar AS, sementara kontribusi Indonesia masih relatif kecil. Pernyataan ini memberi gambaran bahwa ruang pertumbuhan masih luas bila produsen nasional mampu menjaga kualitas dan memperluas jaringan distribusi.
Pasar global yang besar berarti persaingan juga ketat. Produk Indonesia harus bersaing dengan merek dari Thailand, China, Eropa, Amerika Serikat, dan negara lain yang sudah lebih dulu kuat di industri ini. Kunci utamanya ada pada mutu, harga, kemasan, kapasitas produksi, dan kepatuhan terhadap standar ekspor.
Banyuasin Masuk Peta Industri Olahan
Kabupaten Banyuasin selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penting di Sumatera Selatan. Dengan adanya ekspor makanan kucing dari fasilitas produksi di daerah tersebut, Banyuasin kini ikut masuk dalam pembicaraan industri olahan bernilai tambah.
Pabrik di Daerah Jadi Pintu Ekspor
Pabrik PT Evo Manufacturing Indonesia di Banyuasin menjadi lokasi pelepasan ekspor perdana. Kabar SDGs mencatat pelepasan dilakukan di Desa Karang Anyar, Kecamatan Sumber Marga Telang, Kabupaten Banyuasin.
Keberadaan pabrik di daerah memberi nilai penting. Industri tidak hanya bertumpu pada kota besar. Daerah yang memiliki akses bahan baku, tenaga kerja, dan jalur logistik dapat menjadi basis produksi ekspor. Hal ini membuka peluang bagi daerah lain untuk membangun industri olahan sesuai kekuatan lokal masing masing.
Tenaga Kerja Lokal Ikut Terlibat
Industri makanan hewan membutuhkan tenaga kerja pada banyak bagian, mulai dari pengolahan bahan, pengemasan, pengujian mutu, pergudangan, hingga pengiriman. Jika ekspor meningkat, kebutuhan tenaga kerja dan keahlian teknis juga dapat bertambah.
Pemerintah daerah dapat memanfaatkan momentum ini dengan menyiapkan pelatihan tenaga kerja, membantu perizinan, memperkuat infrastruktur, dan membuka ruang bagi pemasok lokal agar masuk ke rantai produksi.
Pemerintah Dorong Produk Lokal Naik Kelas
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengapresiasi ekspor perdana tersebut sebagai bagian dari upaya membawa produk lokal ke pasar luar negeri. Dalam keterangan yang dikutip Antara, Budi menyampaikan bahwa Indonesia sudah bisa membuat makanan kucing untuk diekspor. Ia juga menyampaikan ungkapan bahwa kucing boleh impor, tetapi makanan harus lokal.
Program Lokal Menuju Global
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyebut pelepasan ekspor ini sejalan dengan program Dari Lokal Menuju Global. Program tersebut diarahkan untuk mendorong produk dalam negeri lebih kompetitif di pasar internasional.
Dorongan semacam ini penting karena banyak produk lokal sebenarnya memiliki kualitas baik, tetapi belum terbiasa masuk pasar luar negeri. Pemerintah dapat membantu melalui akses pasar, promosi dagang, pendampingan sertifikasi, serta pertemuan dengan calon pembeli.
Akses Pasar Perlu Terus Dibuka
Masuk ke pasar ekspor membutuhkan lebih dari kemampuan produksi. Perusahaan harus memahami aturan label, standar bahan, izin impor negara tujuan, tata cara pengiriman, dan jaringan distributor. Di sinilah peran pemerintah dan perwakilan dagang menjadi penting.
Jika ekspor perdana ke Filipina berjalan baik, produsen dapat memperluas pasar ke negara lain. Asia Tenggara bisa menjadi pintu awal sebelum produk masuk ke kawasan yang lebih jauh.
Tantangan Produk Lokal di Pasar Ekspor
Meski berhasil menembus Filipina, perjalanan produk makanan kucing lokal masih panjang. Pasar luar negeri memiliki standar ketat dan konsumen yang semakin teliti. Produk harus konsisten dari pengiriman pertama sampai pengiriman berikutnya.
Mutu Harus Stabil
Konsumen hewan peliharaan sangat memperhatikan kualitas. Jika kucing menolak makan, mengalami gangguan pencernaan, atau produk berubah aroma, kepercayaan pembeli dapat turun cepat. Karena itu, produsen harus menjaga formula, bahan baku, proses sterilisasi, kemasan, dan masa simpan.
Produk dalam kaleng dan pouch membutuhkan kontrol kualitas yang ketat. Segel harus aman, isi harus stabil, dan label harus jelas. Setiap batch perlu diuji agar memenuhi standar negara tujuan.
Kemasan Perlu Menarik
Pasar makanan hewan peliharaan sangat visual. Pembeli sering memilih produk dari tampilan kemasan, informasi gizi, ukuran porsi, dan klaim bahan. Produk lokal harus tampil rapi agar mampu bersaing dengan merek global.
Bahasa pada kemasan juga perlu disesuaikan dengan negara tujuan. Untuk Filipina, label harus mudah dipahami distributor dan konsumen. Informasi bahan, cara penyajian, tanggal kedaluwarsa, berat bersih, serta identitas produsen perlu ditampilkan jelas.
Tabel Ringkasan Ekspor Makanan Kucing ke Filipina
Agar pembaca mudah memahami skala pengiriman, berikut ringkasan informasi utama dari ekspor perdana produk makanan kucing lokal ke Filipina.
| Bagian | Keterangan |
|---|---|
| Produsen | PT Evo Manufacturing Indonesia |
| Lokasi produksi | Banyuasin, Sumatera Selatan |
| Negara tujuan | Filipina |
| Nilai ekspor | Sekitar 176 ribu dolar AS atau Rp3 miliar |
| Produk pertama | 2.300 boks makanan basah dalam kaleng |
| Produk kedua | 11.200 boks pasta dalam kemasan |
| Produk ketiga | 12.000 boks daging kaldu dalam kemasan |
| Pelepasan ekspor | 12 Februari 2026 |
| Pihak yang melepas | Menteri Perdagangan Budi Santoso |
| Bahan baku | Perikanan dan peternakan lokal |
Peluang Sumatera Selatan di Industri Hewan Peliharaan
Sumatera Selatan memiliki potensi bahan baku, lahan industri, dan akses logistik yang dapat digunakan untuk mengembangkan produk olahan. Ekspor makanan kucing dari Banyuasin memberi contoh bahwa daerah dapat ikut bermain dalam industri yang tidak biasa.
Tidak Hanya Komoditas Mentah
Selama ini, daerah sering dikenal lewat komoditas mentah seperti hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan. Ekspor makanan kucing menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat diolah menjadi produk jadi dengan nilai lebih tinggi.
Produk jadi seperti makanan hewan memiliki merek, kemasan, formula, dan jaringan pasar. Nilainya tidak hanya berasal dari bahan, tetapi juga dari proses pengolahan dan kepercayaan konsumen.
Mendorong Industri Pendukung
Jika industri makanan hewan tumbuh, industri pendukung juga ikut dibutuhkan. Mulai dari percetakan kemasan, penyedia kaleng dan pouch, jasa logistik, laboratorium pengujian, pergudangan, hingga layanan desain merek.
Banyuasin dan Palembang dapat menjadikan keberhasilan ini sebagai contoh untuk mengembangkan rantai industri yang lebih luas. Semakin banyak bagian produksi dilakukan di dalam negeri, semakin besar nilai yang bertahan di daerah.
Konsumen Filipina Jadi Ujian Penting
Pengiriman perdana ke Filipina akan menjadi ujian bagi produk makanan kucing lokal. Setelah barang tiba, respons distributor, toko, dan konsumen menjadi faktor penting untuk menentukan pengiriman berikutnya.
Rasa dan Tekstur Menentukan Pembelian Ulang
Produk makanan kucing berbeda dari barang konsumsi biasa. Pembeli mungkin tertarik dari kemasan, tetapi pembelian ulang sering ditentukan oleh reaksi kucing. Jika kucing menyukai aroma, tekstur, dan rasa, pemilik akan kembali membeli.
Karena itu, produsen perlu menjaga konsistensi rasa dan tekstur. Pรขtรฉ harus tetap lembut, produk gravy harus memiliki kuah cukup, dan kaleng harus mudah dibuka serta aman disimpan.
Harga Harus Kompetitif
Di pasar Filipina, produk Indonesia akan bersaing dengan merek lokal dan impor. Harga menjadi faktor penting, terutama untuk konsumen yang membeli makanan kucing secara rutin. Produk yang terlalu mahal akan sulit menembus pembeli massal, sementara produk yang terlalu murah bisa dipertanyakan kualitasnya.
Kombinasi harga wajar, kualitas stabil, dan kemasan menarik menjadi bekal utama untuk bertahan. Jika ekspor perdana mendapat respons baik, volume pengiriman dapat meningkat.
Ekspor Pet Food Buka Ruang Baru bagi Indonesia
Ekspor makanan kucing lokal ke Filipina bernilai Rp3 miliar menjadi bukti bahwa produk olahan Indonesia dapat masuk ke pasar yang semakin spesifik. Pasar hewan peliharaan bukan lagi sektor kecil, karena gaya hidup pemilik kucing dan anjing terus berubah di banyak negara.
Produk Daerah Bisa Masuk Rantai Global
Dari pabrik di Banyuasin, produk makanan kucing lokal kini sampai ke Filipina. Jalur ini memperlihatkan bahwa daerah di luar pusat industri besar juga dapat masuk ke perdagangan luar negeri bila memiliki produk yang tepat, standar produksi yang baik, dan akses pasar yang terbuka.
Keberhasilan ini dapat menjadi pemantik bagi produsen lain. Makanan hewan peliharaan, suplemen hewan, aksesori, pasir kucing, dan produk perawatan hewan menjadi kategori yang masih bisa dikembangkan oleh pelaku usaha nasional.
Kualitas Jadi Kunci Lanjutan
Pekerjaan berikutnya adalah menjaga kualitas dan memperluas pasar. Ekspor pertama membawa nama Indonesia. Pengiriman berikutnya akan menentukan apakah pembeli luar negeri melihat produk lokal sebagai pemasok yang dapat dipercaya.
Jika kualitas stabil, harga masuk akal, dan distribusi lancar, makanan kucing lokal bukan hanya menembus Filipina, tetapi juga dapat masuk lebih jauh ke pasar Asia dan kawasan lain yang memiliki permintaan besar terhadap produk hewan peliharaan.


Comment