Berita Kucing
Home / Berita Kucing / Kucing Hutan yang Hampir Punah, Satwa Pemalu Terdesak di Indonesia

Kucing Hutan yang Hampir Punah, Satwa Pemalu Terdesak di Indonesia

Kucing Hutan yang Hampir Punah, Satwa Pemalu Terdesak di Indonesia
Kucing Hutan yang Hampir Punah, Satwa Pemalu Terdesak di Indonesia

Kucing hutan merupakan sebutan umum yang sering digunakan masyarakat untuk berbagai jenis kucing liar. Istilah ini dapat merujuk pada kucing kuwuk yang tubuhnya bertotol, kucing merah Kalimantan, kucing tandang, kucing bakau, kucing batu, hingga macan dahan Sunda. Setiap jenis mempunyai bentuk tubuh, makanan, wilayah sebaran, serta tingkat ancaman yang berbeda.

Tidak semua kucing liar yang disebut kucing hutan berada pada tingkat keterancaman yang sama. Kucing kuwuk, misalnya, masih berstatus risiko rendah secara global karena penyebarannya cukup luas. Namun, kucing merah Kalimantan dan kucing tandang telah masuk kategori genting atau Endangered dalam Daftar Merah IUCN. Kucing bakau dan macan dahan Sunda berada dalam kategori rentan atau Vulnerable, sedangkan kucing batu berstatus mendekati terancam atau Near Threatened.

Keberadaan satwa tersebut semakin sulit diketahui karena sebagian besar hidup menyendiri, beraktivitas pada malam hari, dan menghindari manusia. Banyak informasi baru diperoleh melalui kamera jebak yang dipasang selama berbulan bulan di dalam hutan. Pada sejumlah penelitian, ribuan malam pengamatan hanya menghasilkan sedikit foto.

Istilah Kucing Hutan Mencakup Banyak Spesies

Masyarakat sering menyebut setiap kucing liar bertubuh kecil dan memiliki pola bulu sebagai kucing hutan. Padahal, satwa yang ditemukan di kebun, tepian desa, rawa, atau kawasan pegunungan belum tentu berasal dari spesies yang sama.

Kucing kuwuk mempunyai tubuh yang menyerupai kucing rumahan, tetapi lebih ramping dan memiliki pola bintik gelap. Jenis ini dapat hidup di hutan, semak, kebun, lahan pertanian, serta wilayah yang berdekatan dengan permukiman. Kemampuannya menyesuaikan diri membuat kucing kuwuk lebih sering terlihat dibandingkan kucing liar lain.

Alergi Kucing Tetap Bisa Aman, Ini Cara Merawatnya di Rumah

Kucing merah Kalimantan mempunyai warna bulu yang cenderung merah kecokelatan atau abu abu. Kucing tandang memiliki kepala memanjang dan agak rata, sedangkan kucing bakau bertubuh lebih kekar dengan kaki pendek. Kucing batu mudah dikenali melalui pola besar menyerupai marmer dan ekor yang sangat panjang.

Macan dahan Sunda memiliki ukuran lebih besar. Pola gelap di tubuhnya menyerupai awan, sementara ekornya yang panjang membantu menjaga keseimbangan ketika bergerak di antara cabang pohon. Satwa ini menjadi jenis kucing terbesar yang secara alami hidup di Pulau Kalimantan.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 memasukkan kucing merah, kucing emas, macan dahan, kucing batu, kucing kuwuk, kucing tandang, dan kucing bakau dalam daftar satwa dilindungi. Perlindungan berlaku meskipun status global setiap spesies tidak sama.

Kucing Merah Kalimantan Sangat Jarang Terlihat

Kucing merah Kalimantan atau Catopuma badia merupakan satwa endemik Borneo. Artinya, habitat alaminya hanya terdapat di pulau yang wilayahnya terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Spesies ini telah lama dianggap sebagai salah satu kucing liar paling sulit ditemukan. Belum tersedia perkiraan populasi dan kepadatan yang dapat menggambarkan jumlah individunya secara pasti. Foto pertama kucing merah di alam baru diperoleh pada 1998, sedangkan catatan pertama melalui kamera jebak muncul pada 2002.

Rosemary Aman untuk Kucing? Ini Batas yang Perlu Pemilik Tahu

Di wilayah Indonesia, keberadaannya telah dikonfirmasi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Catatan juga ditemukan di Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Betung Kerihun, Hutan Lindung Sungai Wain, Taman Nasional Kutai, serta Taman Nasional Kayan Mentarang. Ketiadaan catatan di suatu tempat tidak selalu menunjukkan satwa tersebut sudah hilang karena perilakunya sangat tersembunyi.

Kucing merah diperkirakan bergantung pada kawasan berhutan, termasuk hutan dataran rendah dan perbukitan. Ketika hutan dibuka menjadi jalan, perkebunan, permukiman, atau fasilitas lain, ruang hidupnya menyempit dan terpisah menjadi bagian kecil.

Kelangkaannya juga dapat menarik perhatian pedagang satwa. IUCN Cat Specialist Group menyebut adanya bukti penangkapan dan pengiriman kucing merah untuk perdagangan hewan peliharaan. Jerat yang dipasang untuk menangkap satwa lain turut menjadi ancaman karena kucing merah dapat terperangkap tanpa sengaja.

“Menurut penulis, sedikitnya foto kucing merah bukan alasan untuk menganggap masalahnya kecil. Kelangkaan data justru membuat penurunan populasinya lebih sulit diketahui sebelum terlambat.”

Kucing Tandang Bergantung pada Sungai dan Rawa

Kucing tandang atau Prionailurus planiceps disebut pula kucing kepala datar. Spesies ini hidup di Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan bagian selatan Thailand. Keberadaannya diperkirakan sangat tersebar dan terkumpul pada habitat yang dekat dengan air.

Mengelus Kucing Saat Bad Mood, Ilmuwan Ungkap Efeknya pada Stres

Bentuk kepalanya terlihat memanjang dengan dahi yang relatif rata. Tubuhnya rendah, kakinya pendek, dan matanya berada cukup dekat pada bagian depan wajah. Gigi tertentu berkembang untuk membantu memegang ikan dan hewan air yang licin.

Kucing tandang banyak tercatat di hutan rawa air tawar, rawa gambut, tepian sungai, danau, aliran kecil, serta hutan dataran rendah yang lembap. Hampir seluruh foto di alam diperoleh pada wilayah rendah yang berdekatan dengan sumber air besar.

Makanannya diperkirakan terdiri atas ikan, katak, udang, kepiting, burung, hewan pengerat kecil, dan sesekali buah. Pengamatan terhadap individu dalam pemeliharaan menunjukkan ketertarikan besar terhadap air. Satwa tersebut dapat duduk di dalam kolam, berenang menyeberangi sungai, serta memasukkan kepala ke air ketika menangkap ikan.

Di Indonesia, kamera jebak pernah merekam kucing tandang di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Pengamatan jangka panjang di kawasan tangkapan air Sebangau menghasilkan puluhan rekaman, tetapi jumlah tersebut tetap rendah jika dibandingkan lamanya penelitian. Catatan juga muncul dari hutan Rungan dan kawasan Roda Mas di Kalimantan Timur.

Hilangnya Lahan Basah Menekan Kucing Tandang

Ancaman terbesar bagi kucing tandang berasal dari hilangnya hutan dataran rendah dan lahan basah. Rawa dapat dikeringkan untuk perkebunan, pertanian, permukiman, jalan, dan kegiatan pengambilan kayu. Kanal yang dibangun di lahan gambut juga mengubah tinggi air serta susunan vegetasi.

IUCN Cat Specialist Group memperkirakan lebih dari 70 persen habitat historis kucing tandang telah berubah sampai menjadi tidak sesuai. Kawasan yang tersisa sering terpisah oleh perkebunan, permukiman, jalan, dan lahan terbuka.

Pencemaran air menjadi tekanan tambahan. Limbah pertanian, minyak, logam berat, dan bahan kimia lain dapat masuk ke sungai. Ikan yang menjadi sumber makanan berkurang atau membawa zat beracun ke tubuh pemangsanya.

Penangkapan ikan yang berlebihan juga mengurangi pilihan makanan. Ketika mangsa alami sulit ditemukan, kucing tandang dapat mendekati kolam ikan atau kandang unggas. Pertemuan tersebut meningkatkan kemungkinan satwa diburu karena dianggap merugikan.

Perdagangan melalui media sosial turut ditemukan. Analisis terhadap sejumlah kelompok Facebook di Semenanjung Malaysia pernah menemukan kucing tandang yang ditawarkan untuk dijual. Spesies ini tercantum dalam Apendiks I CITES, sedangkan perburuan dan perdagangannya dilarang di Indonesia.

Kucing Bakau Dikenal sebagai Pemburu Ikan

Kucing bakau atau Prionailurus viverrinus memiliki tubuh lebih besar dan kekar dibandingkan kucing kuwuk. Kakinya pendek, kepalanya lebar, dan ekornya relatif singkat. Pola hitam memenuhi tubuh berwarna abu abu kecokelatan.

Nama kucing bakau berasal dari kedekatannya dengan wilayah berair. Satwa ini ditemukan di sungai, rawa, danau, padang rumput basah, tambak, sawah, tepian waduk, serta sisa hutan mangrove. Walaupun dikenal sebagai pemburu ikan, makanannya juga mencakup katak, burung, mamalia kecil, reptil, dan hewan air lain.

Sebaran kucing bakau membentang secara terputus dari Asia Selatan hingga sebagian Asia Tenggara. Populasi pada satu kawasan dapat terpisah jauh dari populasi lain karena lahan basah di antaranya telah berubah fungsi. IUCN menempatkan spesies tersebut dalam kategori rentan.

Di Indonesia, keberadaan kucing bakau sangat jarang tercatat dan lebih sering dikaitkan dengan wilayah pesisir tertentu. Peraturan nasional tetap memasukkannya sebagai satwa dilindungi bersama jenis kucing liar Indonesia lainnya.

Kucing bakau dapat hidup di luar kawasan konservasi, termasuk dekat tambak ikan dan sawah. Kemampuan tersebut tidak berarti populasinya aman. Pertemuan dengan manusia dapat berakhir dengan pembunuhan ketika satwa dituduh mengambil ikan atau unggas.

Jalan raya juga menjadi ancaman di beberapa negara. Perluasan infrastruktur memotong jalur pergerakan antara rawa, sungai, dan hutan. Kucing yang bergerak pada malam hari berisiko tertabrak kendaraan ketika menyeberang.

Macan Dahan Sunda Memerlukan Hutan yang Terhubung

Macan dahan Sunda atau Neofelis diardi hidup di Sumatra dan Borneo. Spesies ini berbeda dari macan dahan daratan Asia yang bernama Neofelis nebulosa. Perbedaan genetik, bentuk tengkorak, kromosom, dan pola bulu menjadi dasar pemisahan keduanya.

Tubuh macan dahan Sunda dapat mencapai panjang lebih dari satu meter, belum termasuk ekor. Ekornya hampir sepanjang tubuh dan berfungsi menjaga keseimbangan. Kakinya relatif pendek, sedangkan telapak dan sendinya mendukung kemampuan memanjat.

Satwa ini dapat hidup di hutan dataran rendah, perbukitan, pegunungan, rawa gambut, mangrove, dan kawasan yang pernah mengalami penebangan. Namun, macan dahan Sunda jarang menggunakan perkebunan kelapa sawit sebagai ruang hidup utama.

Jumlah individu dewasa di seluruh wilayah sebarannya diperkirakan sekitar 4.500 ekor. Sekitar 3.800 di antaranya diperkirakan berada di Borneo, sedangkan sekitar 730 berada di Sumatra. Angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan wilayah hunian dan kepadatan, bukan hasil penghitungan langsung setiap individu.

Macan dahan Sunda membutuhkan wilayah jelajah luas. Satu kawasan konservasi belum tentu cukup untuk mempertahankan populasi yang sehat dalam waktu panjang. Hutan penghubung diperlukan agar individu dari kelompok berbeda dapat bertemu dan berkembang biak.

Pembukaan hutan, pemasangan jerat, perburuan mangsa, perdagangan kulit, serta pembunuhan ketika mendekati ternak menjadi tekanan utama. Jerat yang ditujukan untuk babi atau rusa dapat melukai kaki, menyebabkan infeksi, atau membunuh macan dahan yang melintas.

Kucing Batu Mengandalkan Tajuk Pohon

Kucing batu atau Pardofelis marmorata memiliki berat yang hampir sama dengan kucing rumahan berukuran besar. Tubuhnya ramping, kakinya cukup pendek, dan ekornya sangat panjang serta lebat.

Pola bulunya terdiri atas bercak besar berwarna gelap dengan garis hitam di bagian tepi. Bentuk tersebut sekilas menyerupai pola macan dahan, meskipun ukuran kucing batu jauh lebih kecil. Struktur kaki dan ekornya menunjukkan kemampuan bergerak di atas pohon.

Satwa ini dapat menuruni batang pohon dengan kepala menghadap ke bawah. Pengamatan di Kalimantan pernah menemukan seekor kucing batu beristirahat pada cabang sekitar 25 meter dari permukaan tanah. Namun, berbagai rekaman kamera jebak juga menunjukkan bahwa kucing batu cukup sering berjalan di tanah.

Kucing batu hidup di Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Asia Tenggara daratan, hingga kawasan Himalaya bagian timur. Walaupun wilayah sebarannya luas, populasinya terpecah dan masih kurang diteliti.

IUCN menempatkannya dalam kategori mendekati terancam. Di Indonesia, kucing batu tercantum sebagai satwa dilindungi. Hutan dengan tutupan tajuk rapat menjadi unsur penting karena satwa ini cenderung menghindari wilayah yang sangat terganggu dan didominasi aktivitas manusia.

Kucing Kuwuk Belum Terancam Global tetapi Tetap Dilindungi

Kucing kuwuk atau Prionailurus bengalensis merupakan jenis yang paling sering disebut sebagai kucing hutan oleh masyarakat Indonesia. Tubuhnya bertotol, bagian wajah mempunyai garis gelap, sementara bagian belakang telinga berwarna hitam dengan bercak putih.

Secara global, spesies ini belum masuk kategori terancam karena penyebarannya luas dan mampu menempati beragam habitat. Namun, populasi lokal dapat menghadapi tekanan dari penangkapan, perdagangan, perburuan, tabrakan kendaraan, dan hilangnya tempat berlindung.

Di Indonesia, kucing kuwuk termasuk satwa dilindungi. Sejumlah penyerahan kepada BKSDA terjadi setelah warga menemukannya di kebun, kandang ayam, pekarangan, atau tempat lain yang berdekatan dengan permukiman.

Perlindungan nasional dibutuhkan karena status global tidak selalu menggambarkan keadaan setiap pulau atau subspesies. Populasi yang masih banyak di satu negara tidak dapat menggantikan kelompok yang hilang di pulau lain.

Kucing kuwuk juga sering ditangkap ketika mendekati kandang unggas. Satwa tersebut sebenarnya lebih banyak memangsa tikus, burung kecil, kadal, serangga, dan hewan berukuran kecil. Kehadirannya dapat membantu mengendalikan hewan pengerat di tepi hutan dan lahan pertanian.

Perdagangan Hewan Peliharaan Menambah Tekanan

Bentuk kucing liar yang menyerupai kucing rumahan membuat sebagian orang tertarik memeliharanya. Foto anak kucing bertotol sering beredar di media sosial tanpa penjelasan mengenai jenis, asal, dan legalitasnya.

Anak kucing liar yang terlihat sendirian belum tentu kehilangan induk. Induk dapat sedang berburu atau bersembunyi karena mengetahui keberadaan manusia. Pengambilan anak dari habitat memutus proses belajar berburu dan mengurangi peluangnya kembali hidup bebas.

Pemeliharaan di rumah juga tidak mengubah naluri satwa. Setelah dewasa, kucing liar dapat menandai wilayah dengan urine, menggigit, mencakar, aktif pada malam hari, serta menunjukkan stres dalam ruang sempit. Makanan yang tidak sesuai dapat menimbulkan gangguan tulang dan pencernaan.

Perdagangan satwa langka menjadi semakin berbahaya ketika kelangkaan justru meningkatkan harga. Pemburu mempunyai alasan ekonomi untuk mencari spesies yang paling sulit ditemukan, termasuk kucing merah Kalimantan dan kucing tandang.

“Menurut penulis, rasa kagum terhadap kucing liar seharusnya diwujudkan dengan membiarkannya hidup di alam, bukan memindahkannya ke kandang sebagai koleksi.”

Kamera Jebak Membantu Menemukan Satwa Pemalu

Penelitian kucing liar banyak menggunakan kamera otomatis yang dipasang pada jalur satwa. Sensor akan mengaktifkan kamera ketika mendeteksi gerakan atau panas tubuh.

Foto dapat membantu peneliti mengenali spesies, waktu aktivitas, lokasi pergerakan, dan penggunaan habitat. Pada satwa dengan pola unik seperti macan dahan, corak tubuh juga dapat digunakan untuk membedakan individu.

Kamera perlu dipasang cukup lama karena peluang perjumpaan sangat rendah. Dalam penelitian kucing batu, lebih dari 5.400 malam kamera dibutuhkan sebelum foto pertama diperoleh di salah satu lokasi. Sedikitnya rekaman menunjukkan betapa sulitnya menilai jumlah satwa yang jarang bergerak melalui jalur terbuka.

Penelitian juga perlu melibatkan warga yang mengenal hutan setempat. Informasi mengenai jejak, suara, lokasi perjumpaan, satwa mangsa, dan perubahan aliran sungai dapat membantu menentukan lokasi pemasangan kamera.

Hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi perlindungan habitat. Mengetahui lokasi satwa tidak cukup apabila hutan penghubung, rawa, atau tepian sungainya tetap dibuka.

Perlindungan Tidak Cukup Hanya di Dalam Taman Nasional

Kucing liar tidak mengetahui batas taman nasional, konsesi, kebun masyarakat, atau wilayah administrasi. Satwa bergerak mengikuti ketersediaan makanan, air, pasangan, serta tempat berlindung.

Kawasan konservasi menjadi perlindungan utama, tetapi beberapa populasi hidup di hutan produksi, perkebunan, tepian sungai, rawa desa, dan lahan milik masyarakat. Pengelolaan wilayah di luar taman nasional sangat menentukan kemampuan satwa berpindah.

Jalur vegetasi di sepanjang sungai dapat menjadi tempat berlindung bagi kucing tandang dan kucing bakau. Hutan yang menghubungkan dua kawasan besar membantu macan dahan dan kucing merah berpindah tanpa harus melintasi lahan terbuka.

Perusahaan perlu menjaga kawasan bernilai konservasi tinggi, menghentikan pemasangan jerat, mengendalikan perburuan, dan melaporkan temuan satwa. Jalan angkut juga memerlukan pembatasan kecepatan pada titik yang menjadi jalur penyeberangan.

Masyarakat dapat memperoleh dukungan untuk memperkuat kandang unggas agar konflik tidak berakhir dengan penangkapan atau pembunuhan. Kandang dengan kawat rapat, lantai yang terlindungi, serta pintu yang ditutup pada malam hari mengurangi peluang kucing liar masuk.

Langkah Saat Menemukan Kucing Liar

Warga yang menemukan kucing liar sebaiknya tidak langsung menangkap, menyentuh, atau membawanya pulang. Jarak aman perlu dijaga karena satwa yang terpojok dapat menggigit dan mencakar sebagai bentuk pertahanan.

Apabila satwa hanya melintas, beri ruang agar dapat kembali menuju hutan. Anak kucing yang ditemukan tidak boleh segera dipisahkan dari lokasi. Pengamatan dapat dilakukan dari jarak jauh untuk mengetahui kemungkinan induknya masih berada di sekitar tempat tersebut.

Kucing yang terluka, terjerat, masuk ke rumah, atau tidak mampu kembali ke habitat perlu dilaporkan kepada BKSDA setempat. Petugas dapat mengidentifikasi spesies, memeriksa kondisi kesehatan, menentukan lokasi pelepasliaran, atau membawa satwa ke fasilitas perawatan.

Makanan tidak sebaiknya diberikan secara rutin kepada kucing liar di sekitar rumah. Kebiasaan tersebut membuat satwa terus kembali, kehilangan rasa waspada, dan semakin sering bertemu manusia. Dokumentasi dapat dilakukan tanpa lampu kilat dan tanpa mengejar satwa.

Penyerahan sukarela kepada petugas telah beberapa kali membantu kucing kuwuk kembali ke alam. Tindakan serupa memberi kesempatan bagi satwa untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran pada habitat yang dinilai sesuai.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *